Tampilkan postingan dengan label KAJIAN KEAGAMAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN KEAGAMAAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Februari 2015


oleh: Muzakkir S

L
ombok, Pulau kecil namun kaya akan gelar yang disematkan dan disandang, mulai dari icon tempat ibadah, distinasi wisata, adat istiadat, seni musik, kuliner pedas, sampai kepada populasi binatang. Potret Lombok dan masyarakatnya terbingkai dalam kemasan budaya dan tradisi yang dianut. Tidak bisa dipungkiri bahwa Lombok merupakan Pulau yang berada di Provinsi  NTB dengan populasi muslim sebagai kaum mayoritas. Maka sangat wajar kalau Lombok disematkan gelar “seribu masjid” karena begitu mudah menjumpai masjid. Setiap dusun/kampung bisa dipastikan memiliki masjid bahkan dalam satu kampung terdapat dua masjid atau lebih, belum lagi dengan mushalla atau sanggar-sanggar yang didirikan. Antusias keberagamaan dan sensitivitas religius yang dimiliki sangat terasa dan kontras terpampang dalam aktivitas sehari-hari. Sekalipun kehadiran Islam tidak sebagai agama pertama, namun Islam mampu berasimilasi dengan budaya setempat hingga akhirnya masyarakat menjadikan Islam sebagai agama pilihan mereka.

Pertumbuhan dan perkembangan masjid di Lombok mengalami signifikansi yang luar biasa, bentuk dan miniatur yang digunakan pun banyak mengalami perubahan. Secara general antusias dan motivasi masyarakat dalam membangun masjid di Lombok sangat tinggi walaupun pada sebagian tempat terkesan dipaksakan sehingga memakan waktu yang lama. Namun, yang menjadi ironi bahkan tragedi adalah minat masyarakat dalam mengisi masjid tidak sebanding lurus dengan antusias membangun masjid itu sendiri. Masjid terkesan diisi pada waktu shalat lima waktu atau pada acara-acara besar saja. Padahal masjid bisa dijadikan sentral kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Gelar “seribu masjid” mendapat kompetitor yang lebih besar nominalnya yaitu “sejuta sapi”. Ini menjadi perang jargon yang mencerminkan Lombok (NTB) di luar. Sejuta Sapi sudah menjadi program pemerintah Provinsi NTB, sedangkan Seribu masjid memang bukan program prioritas Pemerintah Provinsi. Di sini, kita tidak mengkritisi program pemerintah, namun lebih kepada melihat fenomena dari perang dua jargon tersebut. Sadar atau tidak sadar, follower masjid kian down padahal masjid itu sendiri mengalami pertumbuhan yang sangat luar biasa. Di beberapa tempat kita melihat banyak kampung yang membangun masjid, merenovasi masjid bahkan mendirikan masjid tandingan. Kompetisi pembangunan masjid pun menjadi tontotan biasa dan Follower yang delcon dengan masjid kian bertambah. What is problem? Apakah ini bentuk kemalasan karena terkontaminasi dengan malasnya sapi? Atau memang karena hal lain? Ya sudahlah....  Ini bukan masalah wajib atau tidak, memang mengisi/beribadah di masjid tidak wajib akan tetapi akan sangat ironi sekali ketika kita berbondong-bondong dan berlomba-lomba mendirikan masjid yang megah namun tidak diisi dan tidak disemarakkan dengan ibadah dan kegiatan sosial lainnya.

Secara umum ini merupakan fenomena sosial masyarakat Sasak saat ini sekalipun pada sebagian tempat masih banyak follower sejati masjid. Maka sudah saatnya para pemangku kebijakan dan para sesepuh agama mencarikan solusi alternatif dalam meramaikan masjid. Desentralisasi masjid seharusnya menjadi program bersama, masjid menjadi sentral keagamaan dan kegiatan sosial lainnya, jangan lagi masjid hanya menjadi miniatur kebanggaan budaya, namuan sepi dari aktivitas keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Maka sudah seharusnya “Satu masjid menampung seribu jama’ah bukan seribu masjid hanya ada satu jama’ah”.


Senin, 27 Oktober 2014

Agama dan Modernisasi "diskusi ke-2"

Posted by Unknown On 21.45 | No comments

Agama, Modernitas, Dan Masyarakat Sasak; Bisakah di Sandingkan??[1] 
Oleh: MSI (M. Salimudin Ishak)


Dr. Al-Makin, seorang doktor sekaligus adalah dosen Sosiologi Agama-UIN Sunan Kalijaga dalam sebuah diskusi (seminar) menyatakan “Indonesia adalah Negeri tersubur di dunia”. Indonesia selain sebagai negara yang sangat kental dengan adat dan tradisi, gotong royong dan religiusitas (keberagamaan) yang tinggi juga merupakan negara yang sangat terbuka, subur, legowo dan lainnya. Kesuburan ini terlihat dengan jumlah agama yang menjamur di Indonesia saat ini,[2] baik yang merupakan agama pribumi asli maupun juga agama bawaan masyarakat luas. Begitu juga jika dilihat dari aliran yang ada di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat; adanya aliran Syi’ah yang bernegara di Iran, Ahmadiyah di India, Wahhabi di Saudi Arabia dan sekitarnya, dan tak terlupakan ISIS yang saat ini masih ‘memanas’. Kesemua aliran keagamaan tersebut terlihat merupakan bawaan atau Islam Transnasional yang dibawa ke Indonesia. Karena pada dasarnya Indonesia, dalam sejarahnya hanya mengenal istilah Islam Nahdliyin (NU/NW) di Jawa, dan Lombok, Muhammadiyah di Jogjakarta, Persis di Jawa Barat, al-Washitiyah di daerah Sumatera. Semua organisasi Islam pribumi tersebut  pada intinya memiliki ruh yang sama, yakni Islam Keindonesiaan.

Wacana Indonesia ‘subur’ diatas membawa penulis kepada pembahasan yang lebih kepada permasalahan sosial masyarakat Sasak terkait kemodernan. dan tetntunya sudah bisa ditebak bahwa, Indonesia saat ini, dimanapun, Desa terpencil-pun sudah terkena dengan arus modernisasi. Ini bisa dibuktikan dengan- sebagaimana tulis Fakhr al-Rasyid[3]-menjamurnya americanisasi, Chinaisasi, Inggrisisasi, dan Indomart, Alfamart, dan sejenisnya yang merupakan produk modern Barat. Di satu sisi juga membuktikan, tesa di atas; Indonesia adalah negara tersubur.

Namun kemudian, selain permasalahan sosial versus modern tersebut, tema krusial dan fundamental adalah masalah keberagamaan masayarakat Indonesia (dalam hal ini masyarakat Sasak) dalam menghadapi arus modernisasi yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Ini artinya, modernisasi adalah sudah mutlak adanya, dan masyarakat beragama harus menjadikan abad modern menjadi kawan, bukan lawan. Sampai disini, pertanyaan yang akan di jawab adalah; Bagaimana Karakter keberagamaan dalam Masyarakat Sasak secara umum? Sudah siapkah masyarakat Sasak menerima Kemodernan? Bagaimana Solusi Konkrit untuk Menyeimbangi antara Agama dan Kemodernan yang tidak, jika di baca dalam perspektif al-Qur’an?

Jawaban Pertama, Pada dasarnya, dalam masyarakat Sasak, Agama merupakan elemen yang sangat penting. Agama tidak hanya menjadi pondasi sosial dalam membina moralitas individu dan kelompok, melainkan agama juga harus menopang segala lini sistem sosial, tradisi, budaya, maupun politik. Karenanya, melanggar agama juga sekaligus melanggar adat/tradisi. dianggap melanggar tradisi (sebagai contoh, sistem awek-awek yang diterapkan di beberapa Desa misalkan menyatakan: jika berzina atau mabuk di tempat atau desa tertentu, maka akan melanggar tradisi setempat. Disni terlihat agama mengikat dan seiring sejalan dengan tradisi). Sampai disini, dapat dikatakan agama dalam masyarakat Sasak akan terus menjadi ujung tombak kemajuan dan memajukan peradaban dalam segala aspek. Namun, sekali lagi akan tetap terjadi, jika peran agama di maksimalkan dalam berkehidupan.

Jawaban Kedua, terkait kesiapan masyarakat Sasak dalam menghadapi arus modernisasi. Dalam kacamata pribadi penulis, sekali lagi dalam pandangan “pribadi” penulis, Masyarakat Sasak terlihat belum siap dalam menerima arus Globalisasi dan/atau modern. Beberapa alasan bisa disebutkan disini:, pertama, bahwa masyarakat Sasak saat ini kebablakan dalam menghadapi arus globalisasi. Dengan munculnya berbagai perubahan tersebut, meniscayakan adanya persaingan antar kelompok dan individu (individualisme). Hal demikian sedikit banyak pasti akan berdampak pada kualitas keberagamaan menjadi terkikis. Kedua, masyarakat kalangan remaja seiring pergumulannya dengan modern, ingin berpenampilan ‘modern’ nan gaul. Ini terbukti dengan mulainya bermunculan gengster, pergaulan bebas baik anak Mahasiswa maupun Sekolah Menengah, seks bebas yang merupakan ‘anak angkat’ dari kemajuan IT, serta perjudian dan minum-minuman yang sudah menjadi hiasan masyarakat perkotaan bahkan pinggiran desa di masyarakat Sasak. Ini semua, pada akhirnya akan memberangus nilai-nilai agama di masyarakat Sasak. Ini artinya, karakter keberagamaan (penjelasan pada jawaban pertama) masyarakat Sasak sudah mulai berubah-jika tidak ingin mengatakan menghilang-.

Jawaban Ketiga, bagaimana sikap yang ditawarkan al-Qur’an?. Al-Qur’an memang bukanlah kitab modern, tapi juga bukanlah semata untuk masyarakat ‘Arab’ semata-yang pada waktu itu belum adanya istilah modern, globalisasi, IT, dan lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan, al-Qur’an dalam beberapa tempat juga mewanti-wanti akan adanya arus masa depan.[4] Terkait hal ini, al-Qur’an dalam surat al-Baqarah memberikan suatu ungkapan “ummatan wasathan” yang penulis terjemahkan dengan umat yang moderat. Ayat tersebut, kiranya menjadi tawaran al-Qur’an dalam menyikapi modernisasi. Moderat diartikan dengan tidak menolak secara mentah, begitu juga tidak menerima modernisasi seadanya. Perlu diadakannya filter atau klarifikasi/selektif, yang mana nantinya akan membawa  kepada peradaban masyarakat yang memiliki mental dan Iman yang kuat.

Problema diatas, tentunya menjadi masalah dan tanggung jawab bersama, begitu juga Berugaq Institute. Dengan demikian solusi sekaligus tawaran dari penulis adalah: pertama, Respon cepat yang harus ditunjukkan oleh para pemegang ‘amanah’ rakyat (pemerintah-pemangku adat dan Agama) terhadap bahaya modernisasi yang di khawatirkan. Dengan demikian, perlu diadakannya filterisasi terhadap budaya asing yang masuk ke dalam masyarakat Sasak. Kedua, diadakannya pembugaran kembali (Refresh) akan budaya asli Sasak kepada masyarakat (terlebih kalangan muda) yang diiringi dengan pemahaman karakter agama Islam yang kokoh. Dengan demikian akan didapat pemahaman agama yang lebih arif dan ramah terhadap lokal. Begitu pula, dengan pemahaman agama yang kuat, akan berimplikasi pada penyaringan yang sehat oleh masyarakat terhadap budaya asing, apakah budaya tersebut sesuai dengan ruh agama atau tidak.[5]




[1] Disampaikan dalam diskusi rutin nan wajib BERUGAQ INSTITUTE, Malam Kamis, tanggal 22 Oktober 2014. Di depan Gedung Multi Purpose UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[2] Menurut hasil sensus tahun 2010, 87,18% dari 237.641.326 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 6,96% Protestan, 2,9% Katolik, 1,69% Hindu, 0,72% Buddha, 0,05% Kong Hu Cu, 0,13% agama lainnya, dan 0,38%, sensus tersebut berdasarkan agama-agama yang resmi di Indonesia. Namun sebenarnya terdapat ratusan agama (tidak resmi) pribumi dan juga agama luar. http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=agama-2&info1=e  diakses pada tanggal 22 oktober 2014
[3] Fakhr al-Rasyid adalah Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, juga merupakan Koordinator dalam bidang Kajian dan Advokasi di Berugaq Institute.
[4] Penulis menangkap bahwa, penggunaan kata dengan fiil mudharek dalam setiap tempatnya al-Qur’an memberikan pemahaman bahwa, adanya relasi masa depan yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan.
[5] Sampai disini, perlu ditegaskan bahwa, tidak semua wajah agama yang ada menerima arus perubahan modern. Dalam Islam tercatat tidak sedikit aliran-aliran yang sangan ‘sinis’ dengan kemajuan. Dengan dalih, hidup harus disesuaikan dengan zaman Nabi, segala tindak tanduk harus mencontohi kehidupan nabi Muhammad yang 15 Abad silam.

Jumat, 24 Oktober 2014




Oleh; Agus Dedi Putrawan. S.Sos.I

Sekapur Sirih
Sejarah telah membuktikan dirinya, bahwa suatu peradaban akan tumbuh dan berkembang sesuai semangat peradaban. jika ada kelahiran peradaban maka konsekuensinya adalah pasti ada kematian peradaban, pun demikian halnya dengan suatu peradapan, ada kalanya ia mencapai masa ke emasan dan pada ujungnya toh akan mengalami kemunduran juga.  Namun pada era globalisasi di mana dunia seolah disatukan dalam satu term yakni modernisasi, di mana kemajuan Eropa dan Amerika (barat) masuk begitu cepat ke pelosok-pelosok desa guna menciptakan satu peradaban dunia (global).  percepatan transformasi dan telekomunikasi, migrasi rill social menuju cyber social seakan mengamini proses modenisasi tersebut.
Muncul kedaulatan baru (kapitalis di negara ketiga) yang mampu mengalahkan kedaulatan negara dalam istilah the new form of sovereignty atau format baru kedaulatan yang menurut Antonio Negri dan Michail Hardt adalah The Empire atau kaisar. Otoritas agama dan otoritas negara sudah terbelenggu kekuatan ekonomi kapital di dunia ketiga, mereka diakali suntikan dana dan iming-iming untuk menghadapi krisis di akar rumput (oleh World Bank dan IMF) tak ayal dalam kehidupan rill mereka seakan mejadi singa ompong yang selalu di elu-elukan rakyat. Untuk memperkuat posisinya, the empire ini menciptakan organisasi-organisasi non pemerintah dari kaum pribumi yang siap menyerang dari bawah, dengan semboyan soft powernya. Inilah yang Habibie sebut dengan wajah baru Imperealisme, dalam arti bukan orang luar saja yang menggrogoti sumberdaya Indonesia tapi juga orang Indonesia sendiri ikut-ikutan.
Sehingga manifestasi dari semuanya adalah gejala-gejala yang tampak pada tataran kulit dasar dan lagi-lagi rakyat harus menelan pil pahitnya. Untuk tidak mengatakan sering, sesekali simbol agama dan budaya menjadi komoditi yang empuk guna mencapai tujuan, misalkan dalam suatu daerah terkandung sumberdaya alam seperti emas, uranium, besi, gas, dan lain-lain dalam tanahnya maka isu Suku, Agama, Ras digulirkan agar terjadi konflik dan akhirnya tujuan tercapai, konflik ketika pembebasan lahan bandara internasional terjadi clash of civilization di antara orang luar dan orang dalam. Begitulah The Empire bermain, rakyat hanya tahu masalah aliran sesat, perang suku, beda ras dan lain-lain yang itu hanya permasalahan sepele namun “media” sebagai (kaki tangan kapital) mem-blow up, seakan ikut taruhan dalam duel “sabung ayam” tersebut.
The empire melalui kekuatan ornop-nya (swasta) merubah segala aspek kehidupan menjadi serba komuditi, semua hal sebagai pasar. Kesehatan tanpa uang pihak rumah sakit ogah melayani, pendidikan, tanpa uang hanya orang kaya yang dapat sekolah misalkan di perguruan tinggi. Kemiskinan, dengan adanya kemiskinan maka proyek-proyek fiktif dalam rangka pemberdayaan sekaligus pementasan kemiskinan hambur. Sosial, sudah jarang orang berinteraksi dalam foru-forum klasik di ganti dengan sosial media. Dan lain sebagainya.

Suku Sasak Dalam Kubangan Modernisasi

Pertanyaan pertama yang muncul dalam pembahasan ini adalah bagaimana eksistensi Suku Sasak dalam menghadapi gesekan dunia global ini. suku sasak yang mayoritas adalah orang Islam tidak mungkin mampu membendung arus globalisasi, mereka akan kehilangan identitas ketika terlena dalam alunan kenikmatan modernisasi. Agama sebagai benteng terakhir juga akhir-akhir ini kualahan akibat dari tokoh-tokoh agama yang steriotipe sekaligus terlalu open tanpa menyaring. Di satu sisi ada kecurigaan sehingga menutup diri dan terjadi semua diharamkan. Di satu sisi juga terlalu open terhadap kerkembangan, misalkan terjadi ketimpangan-ketimpangan di akar rumput seperti, kerusuhan, kenakalan remaja, dan patologi sosial  lainnya. Jual beli simbol-simbol agama untuk memenuhi pesanan kampanye merebak di mana-mana, seolah agama menjadi komuditi baru di abad 21 ini.
Masyarakat eropa sebelum renaisans mengalami  masa-masa sulit, kebodohan, perbudakan, monopoli raja dan gereja membatasi ekspresi masyarakat sosial pada waktu itu, peralihan dari Hunter Gather Society ke Agro Literal Sociaty membuka gerbang perubahan menuju Industrialisasi Society, yang kemudian orang-orang sudah tidak terikat lagi kepada raja dan gereja, selanjutnya timbul istilah skuler, kapitalisme, modernity, nasionalisme, sosialisme, akibat dari riak-riak perjuangan masyarakat eropa. Eropa sudah sukses dengan kemodernisasiannya, sekarang mari kita tengok dunia dalam skup yang lebih kecil yakni masyarakat sasak.
Budaya adalah hasil karya karsa manusia, budaya tidaklah abadi, budaya mengalami dinamisasi, tumbuh dan mati seiring berjalannya waktu. Kita sadari bersama, lambat laun Sasak juga akan tergerus oleh modernisasi apabila tidak ada perhatian dari permerhati-pemerhati semisal tokoh agama, tokoh masyarakat, budayawan, LSM, akademisi ikut mengawal, memprotect modernisasi. Budaya rembuk, gotong royong arus kembali dihidupkan, penghargaan terhadap budaya sebagai lokal wisdom perlu ditingkatkan. Festival rakyat perlu dimanipulasi untuk mengawal dan beradaptasi dengan modernisasi. Media sebagai penyampai berita juga perlu dimanfaatkan dalam merekam kebudayaan klasik, dan kontemporer saat ini guna generasi baru tetap mengenal identitas budayanya sendiri. Forum-forum budaya diskusi dan tulisan kaum terpelajar diperlukan sebagai agent of protect mengawal modernisasi yang kebablasan. Yang terakhir peran pemangku kebijakan, kepedulian dan apresiasinya terhadap keberadaan agama dan budaya wajib diakomodir.

Rabu, 22 Oktober 2014

AGAMA DAN BUDAYA

Posted by Unknown On 20.09 | No comments

(Menilik Perkawinan Agama dan Kebudayaan)[1]
 
Oleh: Suhirman al-Sasaki[2]


Dalam salah satu kesempatan Prof. Noorhaidi, Ph.D pernah mengatakan, “Islam sebagai agama dengan Islam sebagai ilmu adalah dua hal yang berbeda namun sering kali menjebak seseorang”.[3] Lebih jauh dapat dipahami bahwa Islam sebagai agama adalah sesuatu yang sudah final, karena Islam merupakan agama yang sangat diyakini kebenarannya berdasarkan nash-nash yang terdapat dalam al-Qur’an, sesungguhnya agama yang diakui disisi Allah adalah Islam”. Sedangkan agama sebagai ilmu atau ajaran itu dipandang sebagai sesuatu yang belum selesai karena masih mengkehendaki pengkajian-pengkajian yang mendalam melalui berbagai disiplin keilmuan. Dalam hal ini agama tidak hadir dengan wajah ilmu fiqih dan al-Qur’an saja sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang, melainkan agama bisa muncul dengan corak dan bentuk ilmu-ilmu yang lain, semisal sosiologi, antropologi dan lain-lain.

Terilhami dari pernyataan di atas, maka sosiologi sebagai ilmu yang membahas tentang hal-hal yang bersifat sosial masyarakat yang di dalamnya juga memuat tentang budaya sebagai manifestasi dari interaksi yang terjadi, sedikit banyak member corak bagi agama dalam pengertian yang kedua di atas. Oleh Karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai hal tersebut mutlak diperlukan agar dapat dipahami relasi yang terjadi antara agama dengan budaya.

Tulisan sederhana ini bermaksud melihat status ‘perkwainan’ atau relasi antara agama dan budaya yang berkembang dalam masyarakat dalam persfektif yang umum (global), sebagai referensi pengantar untuk memahami yang lebih detail dan rinci tanpa melakukan perselingkuhan antara satu agama yang berkembang dalam budaya sebuah masyarakat atau  dengan lainnya.


a.   Agama

Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari kata “A” yang berarti “tidak” dan “gama” yang berarti “kacau”. Kedua kata itu jika dihubungkan berarti sesuatu yang tidak kacau. Jadi fungsi agama dalam pengertian ini memelihara integritas dari seorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan Tuhan, sesamanya, dan alam sekitarnya tidak kacau. Karena itu menurut Hinduisme, agama sebagai kata benda berfungsi memelihara integritas dari seseorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan realitas tertinggi, sesama manusia dan alam sekitarnya. Ketidakkacauan itu disebabkan oleh penerapan peraturan agama tentang moralitas,nilai-nilai kehidupan yang perlu dipegang, dimaknai dan diberlakukan.

Dalam Islam kata agama disebut dengan kata Al-Din, seperti yang dimaksudkan dalam Al-Qur’an surat 3 : 19. Agama Islam disebut al-Din sebagai lembaga Ilahi untuk memimpin manusia untuk mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Secara fenomenologis, agama Islam dapat dipandang sebagai corpus syari’at yang diwajibkan oleh Tuhan yang harus dipatuhinya, karena melalui syari’at itu hubungan manusia dengan Allah menjadi utuh. Cara pandang ini membuat agama berkonotasi kata benda sebab agama dipandang sebagai himpunan doktrin.


b.   Budaya
Dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia  disebutkan bahwa, “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat”. Sedang “kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan (adat, akhlak, kesenian, ilmu dll). Sedang ahli sejarah mengartikan kebudayaan sebagai warisan atau tradisi. Bahkan ahli Antropogi melihat kebudayaan sebagai tata hidup,  way of life, dan kelakuan.

Menurut Ki Hadjar Dewantoro Kebudayaan adalah "sesuatu" yang
berkembang secara kontinyu, konvergen, dan konsentris. Jadi
Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis, baku atau mutlak. Kebudayaan berkembang seiring dengan perkembangan evolusi batin maupun fisik manusia secara kolektif.

c.   Perkawinan (Relasi) Agama dan Budaya
Seperti halnya kebudayaan agama sangat menekankan makna dan signifikasi sebuah tindakan. Karena itu sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat antara kebudayaan dan agama bahkan sulit dipahami kalua perkembangan sebuah kebudayaan dilepaskan dari pengaruh agama. Sesunguhnya tidak ada satupun kebudayaan yang seluruhnya didasarkan pada agama. Untuk sebagian kebudayaan juga terus ditantang oleh ilmu pengetahuan, moralitas secular, serta pemikiran kritis.

Meskipun tidak dapat disamakan, agama dan kebudayaan dapat saling mempengarui. Agama mempengaruhi system kepercayaan serta praktik-praktik kehidupan. Sebalikny akebudayaan pun dapat mempengaruhi agama, khususnya dalam hal bagaimana agama di interprestasikan/ bagaimana ritual-ritualnya harus dipraktikkan. Tidak ada agama yang bebas budaya dan apa yang disebut Sang –Illahi tidak akan mendapatkan makna manusiawi yang tegas tanpa mediasi budaya, dlam masyarakat Indonesia saling mempengarui antara agama dan kebudayaan sangat terasa. Praktik inkulturasi dalam upacara keagamaan hamper umum dalam semua agama.

Budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.

Budaya agama tersebut akan terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan penganutnya. Hubungan kebudayaan dan agama tidak saling merusak, kuduanya justru saling mendukung dan mempengruhi. Ada paradigma yang mengatakan bahwa ” Manusia yang beragma pasti berbudaya tetapi manusia yang berbudaya belum tentu beragama”.  Jadi agama dan kebudayaan sebenarnya tidak pernah bertentangan karena kebudayaan bukanlah sesuatu yang mati, tapi berkembang terus mengikuti perkembangan jaman. Demikian pula agama, selalu bisa berkembang di berbagai kebudayaan dan peradaban dunia.


[1] Materi ini disampaikan pada acara disKusi rutin “Berugaq Institute”, Kamis, 22 Oktober 2014 di depan Gedung Multi Purpose UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[2] Penulis adalah mahasiswa  Program Studi Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 
[3] Materi tersebut  penulis dapatkan saat mengikuti acara Seminar Nasional “Paradigma dan Implementasi Pendekatan Integrasi-Interkoneksi dalam kajian Pendidivan Islam” Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 15-16 Oktober 2014.  

Populer Post Berugaq Institute

SELAMAT DATANG DI BLOG BERUGAQ INSTITUTE "SELAMAT MENIKMATI DAN TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG" KARENA KUNJUNGAN ANDA SANGAT BERHARGA

Fanspage Berugaq Institute

Pengunjung BI Online


Get this