Tampilkan postingan dengan label KAJIAN SOSIAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN SOSIAL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2015



Oleh: Ishak Hariyanto[1]


Dalam diskusi kali ini saya mencoba untuk mengangkat tema yang masih diangggap seksi yakni tentang “Dilema Peropot (Pernikahan Paksa) Terhadap Dedare Sasak”. Pernikahan peropot[2] atau kawin paksa ini tentu menjadi gejolak psikologis yang selalu menghantui kaum perempuan khususnya para dedare sasak.[3] Menurut saya tema tentang pernikahan paksa peropot ini menjadi hal yang sangat menarik untuk kita diskusikan dalam forum manapun, terutama di Berugak Isntitut Yogyakarta. Secara umum kawin paksa ini menjadi dilema yang menggejolak dalam batin kaum perempuan dedare sasak apabila belum ingin merarik ketika orangtuanya tetap bersikeras memberikan pilihan pada dia, agar memilih merarik atau meninggalkan rumah  (telang lekan bale). Lalu yang menjadi pertanyaan besarnya untuk kita diskusikan adalah, kemanakah seorang perempuan harus pergi, apabila dia tidak mendapat pendidikan yang tinggi untuk dapat memperoleh nafkah bagi kehidupannya? Siapakah yang akan memberi perlindungan yang dia cari?.

Dalam konteks ini saya mencoba untuk menjabarkan fenomena kawin paksa peropot ini karena layak untuk kita diskusikan untuk mencari jawaban serta problem solving demi menciptakan budaya ramah terhadap kaum perempuan yang selama ini menjadi obyek kekerasan dan memandang perempuan sebagai makhluk kedua setelah kaum laki sehingga muncul anggapan laki-laki superioritas dan kaum perempuan tersubordinasi. 

Dalam permasalahan kawin paksa mind pattern yang sering muncul dari agen-agen tertentu, baik orangtua, keluarga, masyarakat, dan sebagainya adalah menguatkan pandangan mitos bahwa perempuan yang berumur 20 tahun keatas dan belum menikah berarti perawan tua (dedare toaq),[4] hal ini menjadi persoalan mendasar dari seorang anak perempuan yaitu ketika dia memasuki usia dewasa, dan akhirnya banyak orang tua menginginkan anaknya untuk tidak menjadi perawan tua, karena perawan tua bagi kebanyakan masyarakat dianggap sebagai bentuk kekurangan yang terjadi pada diri perempuan. Hal semacam ini menjadi landasan orangtua, keluarga, masyarakat dan agen-agen tertentu untuk melaksanakan kawin paksa peropot tanpa memikirkan faktor-faktor negatif yang akan menimpa pada seorang anak perempuan selanjutnya ketika terjadinya perkawinan secara paksa, faktor negatif dari dampak pernikahan paksa peropot yakni emosioanal yang tidak menentu, keharmonisan keluarga dan mendekati terjadinya perceraian, karena pada masa tersebut, ego remaja masih tinggi.[5]

Lalu siapakah yang harus bertanggungjawab (responsible) ketika hal ini melanda para kaum perempuan yang ada disekitar kita semua, terutama di desa-desa atau di kampung dan yang lebih khusus di Sasak Lombok. Apakah pernikahan paksa peropot ini menjadi jalan keluar bagi perempuan yang tidak menginginkan perkawinan, dan  apakah kita pernah memikirkan nasibnya ketika dia lari dari rumahnya dan hidup di jalanan dan mengais nafkah. Tentu hal semacam ini menjadi keprihatinan saya, maka dari itu perlu untuk kita mendiskusikan permasalahan ini. Karena dari problematika pernikahan paksa di atas tentu sangat menyedihkan bagi kaum perempuan yang mengalaminya dan terlebih lagi apabila terjadi pada dedare sasak.
 
Pernikahan paksa peropot ini merupakan kekeliruan pada orangtua ketika menjadikan anak perempuannya tidak mampu untuk memperoleh nafkah untuk menghidupi dirinya. Tidak ada orang tua yang memiliki hak (right) untuk mengusir anak perempuannya dijalanan karena menolak untuk dinikahkan secara peropot.

Maka dari itu problem solving yang saya coba tawarkan dalam kesempatan ini adalah kita sebagai generasi penerus (young generation) dan yang akan menjadi orangtua bagi anak-anak selanjutnya jangan pernah memaksa anak kita untuk melakukan pernikahan peropot, apabila pernikahan paksa ini kita tujukan pada anak-anak kita dan kepada kaum perempuan secara umum sesungguhnya ini adalah kesalahan yang sangat fatal bagi orangtua masyarakat dan kita semua apabila memaksakan pernikahan kepada kaum perempuan yang belum menginginkan pernikahan. 

Suatu permasalahan memang sulit untuk kita jangkau, dan apabila pernikahan paksa peropot ini terjadi, maka bagi kaum perempuan yang menolak pernikahan paksa peropot dan menjadi obyek pengusiran maka cari pekerjaan yang mampu anda lakukan melalui tangan anda, jangan pernah melakukan pekerjaan yang merendahkan martabat serta mengais-ngais sampah untuk mencari sesuatu. Bagi kaum laki-laki, kita dan kaum perempuan semuanya diciptakan sama oleh sang pencipta, perempuan bukanlah makhluk kedua akan tetapi perempaun bagian dari kita yang perlu disayangi, dihormati, dihargai dan diberikan hak-haknya tanpa adanya paksaan baik di ruang publik (public sphere) maupun domestik karena kita memiliki hak yang sama. Maka dari itu mari kita ciptakan budaya yang ramah terhadap perempuan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). 

Matur tampiasih semeton, Mohon di koreksi.


[1]Disampaikan pada program diskusi mingguan Berugaq Institute Yogyakarta, 17-April 2015.
[2]Peropot dalam bahasa sasak bisa diartikan (paksa) atau pernikahan secara paksa tanpa ada rasa cinta atau mengenal lebih jauh antara perempuan dan laki (pacaran). Kalau ditarik dalam bahasa Indonesia peropot  ini mirip seperti pernikahan paksa.
[3]Dedare adalah sebutan bagi perempuan sasak Lombok yang belum menikah (merarik).
[4]Dedare toak adalah sebutan bagi orang sasak untuk memanggil perempuan perawan yang belum kawin.
                [5]Tulisan ini penulis terinspirasi oleh buku Mahatma Gandi, Woman and Social Injustice, terj. Siti Farida, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002).

Sabtu, 07 Maret 2015



oleh: Rohani Inta dewi[1]

Nusa tenggara barat (NTB), sebuah provinsi yang terletak di wilayah indonesia bagian timur, NTB kerap  di juluki the hidden of paradise. Julukan ini diberikan tidak lepas karena panorama alamnya yang indah. Keindahan ini dapat dilihat  dan alami seperti pantai, air terjun, gunung, gili (pulau-pulaukecil), dan masyarakat adatnya/ masyarakat tradisionalnya pun juga tidak lepas dari hal yang menarik untuk di nikmati oleh para pengunjung baik lokal maupun dari mancanegara. Hal tersebut membuat NTB semakin di kenal, dan menjadi tujuan kunjungan wisata yang kian hari makin di buru oleh para wisatawan, baik oleh para wisatawan alam maupun para wisatawan spiritual.

Konon, setiap tahun kunjungan para wisatawan lokal maupun mancanegara ke NTB makin meningkat bahkan melebihi dari target yaitu satu juta wisatawan melalui program Visit Lombok Sumbawa 2012, namun diluar dugaan meningkat dan melebihi target menjadi satu juta lebih. Kemudian pada tahun 2015 ini gubernur NTB ingin mengulangi kesuksesan tahun lalu dengan membuat VSL jilid dua dengan target pengunjung dua juta wisatawan. Selain itu, untuk meningkatkan kunjungan wisatawan pemrov NTB juga memiliki jargon baru yaitu Tambora Menyapa Dunia 2015.

Tidak hanya di bidang pariwisata eksistensi masyarakatnya khususnya perempuan Nusa Tengara Barat (NTB) di lokal, regional, nasional, dan internasional di bidang lain seperti pendidikan, budaya, politik,dan sosial semakin bermunculan. Hal tersebut terbukti dengan terpilihnya salah satu perempuan asal Nusa Tenggara Barat dari suku sasak sebagai salah satu peserta dari dua perwakilan Indonesia untuk menghadiri perhelatan akbar dunia yang di selenggarakan oleh International Indigenous Women’s Forum/IIWF bekerja sama dengan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) /United Nations. Agenda internasional tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 12-25 april 2015 mendatang di New York, Amerika Serikat, dan para peserta agenda internasional tersebut berasal dari Asia, Africa, Latin America, North America, Pacific dan Arctic.

Namun, munculnya salah satu perwakilan Indonesia yang berasal dari perempuan Nusa Tenggara Barat bisa dikatakan bukan apa-apa bahkan kalah telak dengan isu mengenai batu akik. Fakta mengenai perempuan NTB mendunia tidak se-booming dan se-fenomenal batu akik yang sedang menjadi pembicaraan hangat di media massa, televisi, radio dan  masyarakat Indonesia di berbagai penjuru, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa, dari tukang pijat sampai pejabat, kemudian meminjam bahasanya Karl Marx dari masyarakat proletar sampai masyarakat borjuis pun tidak mau ketinggalan menjadi aktor dalam pembicaraan terkait batu akik, tidak terlepas di masyarakat Nusa Tenggara Barat juga ikut-ikutan latah menjadi penyuka batu akik tersebut, baik memilikinya atau hanya sekedar ikut nimbrung membicarakannya, bahkan ikut menjadi penjual batu akik dadakan. Yah inilah Indonesia bung! Masyarakatnya begitu responsif dan agresif akan hal-hal seperti itu, meskipun demikian tidak ada yang bisa disalahkan dengan adanya fenomena ini, satu-satunya cara yang harus dilakukan adalah terus maju dan melakukan sebaik-baiknya amanah yang sudah dipercayakan dengan atau tanpa dukungan, dilupakan atau diingat, menjadi booming atau tidak sudah bukan menjadi hal yang penting lagi, karena yang paling terpenting adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya secara intelektual dan mental ketika berada di kancah internasional membawa nama Indonesia dan NTB tercinta.

Selanjutnya, International Indigenous Women’s Forum/IIWF adalah sebuah jaringan global mengenai perempuan adat baik di lokal, national, maupun regional yang ada di Asia, Africa, Arctic, Pacific, North America and Latin America. Misi dari IIWF ini adalah untuk saling sharing satu sama lain dengan sesama aktifis perempuan sedunia yang ada di Asia, Africa, Arctic, Pacific, North America and Latin America yang membela dan melakukan pembelaan terhadap hak-hak para perempuan minoritas termasuk hak-hak masyarakat adat/ masyarakat tradisional. Kemudian semua para aktifis perempuan yang menjadi peserta dalam agenda ini diharapkan untuk terus saling berkoordinasi, meningkatkan kapasitas, dan meningkatkan peran-peran kepemimpinannya. IIWF juga mendorong konsistensi perspektif para perempuan adat/perempuan tradisional didalam diskusi-diskusi mengenai hak-hak asasi manusia.

Proses training yanga akan dilaksanakan di new York april mendatang ini terdiri dari tiga tahap yaitu; pertama, proses pembelajaran secara online melalui virtual platform yang sudah disediakan oleh pihak penyelenggara yang nantinya para peserta akan log-in menggunakan password yang sudah dikirimkan melalui email masing-masing dan akan melakukan diskusi intens tentang tema-tema yang sudah di sediakan oleh IIWF seperti HAM, CEDAW, UNDRIP, dll. Kedua, melakukan kelas intensif secara face to face di New York, Amerika Serikat. Adapun run down/provisional agenda yang akan dilaksanakan selama face to face berlangsung yaitu pada tanggal 12 april 2015 peserta akan tiba di new York, AS. Kemudian, pada tanggal 13-14 april 2015 para peserta akan mengikuti seminar di United Nations Headquarters. Setelah itu, pada tanggal 15-17 april 2015 akan menghadiri seminar di Columbia University.selanjutnya, pada tanggal 18-19 april 2015 agenda yang akan dilakukan adalah berpartisipasi didalam caucus mengenai masyarakat adat (Caucus Of Indigenous Peoples). Kemudian pada tanggal 20-24 april 2015 akan menjadi peserta dalam agenda forum permanen dari PBB mengenai isu-isu tentang masyarakat adat (United Nations Permanent Forum On Indigenous Issues). Setelah itu pada tanggal 25 april 2015 para peserta akan kembali ke tanah air masing-masing. Ketiga, implementasi advocacy plan oleh para peserta di negara masing-masing pada umumnya dan di area masing-masing pada khususnya sesuai kapasitas, isu, dan kondisi daerah tersebut.



[1] Mahasiswi pascasarjana di Universitas Gadjah Mada jurusan Hubungan Internasional.

Sabtu, 07 Februari 2015


Oleh: Ishak Hariyanto[1]

Berbicara tentang eksistensi sesungguhnya disini merujuk pada keberadaan serta tradisi yang ada dalam masyarakat sasak. Tradisi disini sesungguhnya terkait tentang sebuah kebiasaan yang ada disebuah komunitas masyarakat, salah satunya adalah tradisi ngorek[2] yang ada di masyarakat Lombok. Ngorek ini adalah sebuah tradisi yang menggunakan benda-benda tajam seperti pisau, pedang untuk membacok diri sendiri—kebiasaan ini sering dilakukan oleh para pemuda dan bahkan anak-anak sasak yang ada di Lombok Tengah, hal ini dilakukan sebagai sebuah simbol kekuatan yang sengaja dipertunjukkan ketika dalam sebuah acara nyongkolan[3] (seremonial perkawinan).

Tradisi ngorek ini hanya ada di Lombok secara umum dan secara khusus di Lombok Tengah. Penulis sendiri tidak tau secara pasti kapan dan apa yang melatarbelakangi terjadinya kebiasaan ngorek  ini, akan tetapi sejauh analisis penulis; hal ini dilatar belakangi oleh sebuah perlawanan para pemuda, baik dari dominasi politik, ekonomi dan sosial, dari dominasi tersebut hal ini ditunjukkan dari tradisi ngorek/membacok diri di depan orang banyak sebagai manifestasi bahwa sesungguhnya pemuda sasak memiliki power sebagai sebuah perlawanan.

Tradisi ngorek ini dalam sejarahnya tidak ada—karena dalam budaya sasak ketika ada orang kawin maka akan ada tradisi nyongkolan saja; yakni iring-iringan keluarga serta kerabat pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan dan di iringi dengan musik tradisional sasak yang disebut gamelan. Acara iring-iringan pengantin ini pada awalnya berjalan dengan damai serta aman karena murni di iringi dengan musik serta iring-iringan keluarga serta kerabat pengantin—Akan tetapi seiring perkembangan zaman tradisi nyongkolan ini tidak hanya di iringi oleh musik gamelan[4] serta kerabat, keluarga  penganti saja—akan tetapi tetapi saat ini nyongkolan dalam tradisi sasak ini juga di iringi oleh tradisi ngorek tersebut.

Seperti penulis katakan di atas bahwa sejak kapan tradisi ngorek ini mulai berkembang dan mengakar di tengah-tengah masyarakat sasak—oleh karena itu asumsi sementara penulis hal ini di latar-belakangi oleh adanya dominasi politik, ekonomi dan  sosial. Asumsi penulis ini diperkuat dengan adanya masyarakat sasak yang melakukan sebuah perlawanan serta menunjukkan kebolehan ngorek/membacok diri di ketika acara nyongkolan sedang berlansung.

Ngorek ini dilakukan oleh para pemuda dan bahkan anak-anak, pada saat acara nyongkolan (seremonial pernikahan) masyarakat sasak. Eksistensi ngorek saat ini sudah menjadi sebuah kebiasaan yang ada di masyarakat sasak[5] Lombok Tengah sebagai sebuah tontonan ketika melakukan iringan pengantin—dan  dalam ngorek ini ada hal-hal yang bersifat mistik yang tidak bisa dijangkau oleh logika kita, karena ngorek ini dilakukan dengan penuh nuansa mistik.[6]

Pengertian mistik misalnya menurutMargaret Smith mendeskripsikan mistisme; sebagai bagian terpenting dari semua agama yang benar, yang bangkit menentang formalitas beku dan ketumpulan religius, tujuan mistisme menurutnya untuk membangun hubungan sadar dengan yang absolut  dimana manusia menemukan objek cinta yang bersifat personal (personal object of love). Dalam hal mistik juga Evelyn Underhill tidak kalah penting dalam memberikan pengertian mistik. Mistik menurutnya adalah—kesatuan antara tuhan dan jiwa manusia dan pengertian lebih lanjut Underhill mengatakan jalan mistik utamanya dipahami sebagai sebuah proses sublimasi yang menuntun hubungan diri manusia dengan tuhan sampai pada tingkat yang lebih tinggi daripada hubungan yang terjadi pada kesadaran moral.[7]

Sebelum melakukan ngorek terlebih dahulu sang pengorek harus memiliki mantera atau doa-doa serta ritual yang harus dijalani, karena kebiasaan masyarakat sasak dulu—masih kuatnya dunia kepercayaan terhadap sesuatu baik itu benda dan bahkan roh-roh yang memiliki kekuatan supranatural untuk memberikan kekuatan, dan mungkin hal ini sejalan seperti apa yang telah dikatakan oleh E.B Tylor dalam konsep animismenya.[8] Dalam konsep yang lain juga E.B Tylor menyebutnya dengan dinamisme dalam bahasa yunani berasal dari kata dunamos.[9]

Menarik dalam konteks masyarakat sasak seperti apa yang dikatakan oleh E.B. Tylor di atas sama halnya dengan kepercayaan yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat sasak—yakni kepercayaan terhadap benda-benda yang memiliki sebuah kekuatan natural tersendiri, salah satunya tradisi ngorek ini maish berlaku dan bahkan semakin berkembang di masyarakat sasak—hal ini di tandai oleh tradisi ngorek tersebut, karena ngorek ini dilakukan dengan penuh nuansa mistik maka masyarakat sasak masih senang menjaga tradisi ngorek tersebut. Ngorek seperti penulis katakana di atas bahwa—membacok diri sendiri dengan benda-benda tajam, akan tetapi sebelum membacok diri sendiri dengan benda tajam terlebih dahulu sang-pengorek harus berdoa agar tubuhnya tidak tembus oleh benda tajam tersebut. Biasanya para sesepuh atau orang tua memberikan sejenis rokok kepada sang-pengorek yang sudah diberikan mantera-mantera dan juga disuruh mengunyah buah pinang dan bahkan daun sirih yang sudah diberikan mantera-matera juga. Ketika sang-pengorek sudah menghisap rokok dan juga mengunyah  daun sirih tersebut tubuh sang-pengorek akan terasa gatal dan obatnya hanya menggunakan benda tajam untuk membacok diri dan itulah yang disebut dengan ngorek.[10]

Membacok diri sendiri yang disebut dengan ngorek yang ada di masyarakat sasak ini sekarang sudah mengakar dan  menjadi sebuah kebiasaan masyarakat sasak, khususnya di Lombok Tengah Desa Penujak dan sekitarnya, berbeda dengan desa-desa lain. Suatu hal yang membuat ngorek ini menjadi menarik yakni harus di iringi dengan musik gendang beleq atau sejenis gamelan, apabila musik gendang beleq ini sudah di tabuh maka para pemuda mengeluarkan pedangnya untuk membacok diri dan bahkan menggorok leher sendiri, akan tetapi setelah musik berenti di tabuh maka berenti pula aktifitas ngorek itu, karena ngorek ini penuh dengan nuansa mistik karena harus ada doa-doa yang harus dibaca supaya menjadi kebal dan benda-benda tajam tidak bisa melukai tubuh sang-pengorek, hal ini memang terlihat sangat menarik karena bagian dari tontonan masyarakat yang belum pernah melihat tradisi tersebut dan bahkan pula tradisi ini oleh orang menganggap bahwa ngorek ini sangat ekstrim dan bahkan menakutkan sekali karena menggunakan benda-benda tajam untuk membacok diri.

Ngorek ini kadang-kadang bisa berakibat sangat fatal bagi sang-pengorek karena walaupun sudah menggunakan doa, menghisap rokok yang sudah dikasih mantera-mantera itupun bisa membuat sang pengorek terkena oleh parangnya sendiri apabila tidak memiliki ilmu kebal yang lebih kuat. Dan yang cukup mengherankan juga ngorek ini hanya bisa dilaksanakan ketika proses nyongkolan atau iring-iringan pengantin, karena mantera-mantera dari rokok dan daun sirih yang digunakan sang-pengorek itu hanya berlaku pada momen nyongkolan itu saja, dan apabila sudah keluar dari barisan nyongkolan atau bahkan nyongkolan sudah berahir maka mantera-mantera ngorek itu berahir juga dan tidak bisa digunakan lagi.

Dari sinilah kita bisa melihat kekuatan mantera-mantera serta doa yang dipakai seseorang agar menjadi kebal ketika proses ngorek itu dilkasanakan, dan bahkan antara ngorek dan juga musik gendang belek memiliki hubungan yang kuat, seperti penulis katakan di atas bahwa ketika musik sudah mulai ditabuh maka para pemuda yang ingin ngorek lansung membacok dirinya dan menggorok lehernya. Penulis menganggap bahwa ngorek ini mulai muncul dan menjadi sebuah tradisi ketika tahun 2007-an dan ketika itu penulis baru selesai di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Tulisan yang singkat ini berdasarkan pengalaman penulis dan terjun lansung dalam menyaksikan fenomena ngorek di tengah-tengah masyarakat sasak. Fenomena  ngorek ini sudah menjadi sebuah kebiasaan para pemuda disana. Kemunculan ngorek ini sangat menarik minat penulis untuk meneliti serta menganalisisnya, apa yang melatarbelakangi sehingga muncul fenomena ngorek ini. Asumsi sementara penulis tentang keberadaan ngorek ini muncul sebagai sebuah bentuk perlawanan kaum laki-laki terhadap kondisi politik, ekonomi dan sosial—dan juga kemunculan ngorek ini dipicu oleh sikap kaum laki-laki yang ingin menunjukkan kejantanan serta superioritas mereka dalam menunjukkan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat sasak.
Akan tetapi fenomena ngorek ini tidak bisa dipahami tanpa merujuk pada sistem perkawinan masyarakat sasak yakni—sistem perkawinan merarik (kawin lari). Merarik kawin lari yang ada di lombok sebagai sebuah tradisi dalam menjalankan perkawinan. Antara tradisi ngorek dengan merarik ini saling terkait dan memiliki hubungan yang sangat erat—karena ngorek ini terjadi apabila ada perkawinan dalam masyarakat sasak yang berujung pada prosesi nyongkolan yang dilakukan oleh masyarakat sasak. Memang konsep merarik  memiliki keunikan tersendiri dan juga memiliki tujuan, dimana keunikan perkawinanan merarik (kawin lari) ini harus dilakukan dengan memaling[11] mencuri gadis terlebih dahulu sebagai calon istri, sedangkan tujuan dari kawin lari ini dilakukan untuk mempertahankan budaya lombok dan juga sebagai sebuah perlawanan kaum laki-laki terhadap kondisi politik, ekonomi dan sosial. Fenomena budaya kawin lari ini sangat menarik karena merujuk pada masyarakat yang menganut sistem perkawinan yang meyakini bahwa secara kebudayaan adalah sebuah cara yang paling disetujui oleh kaum laki-laki dalam menunjukkan superioritas dan kejantanannya sebagai respon dari dominasi politik dan ekonomi dari kekuatan-kekuatan internal dan eksternal.

Keberadaan suatu tradisi tentu memiliki penyebabnya, baik itu ekonomi, politik dan juga perubahan sosial—diantara tradisi itu adalah ngorek yang ada di masyarakat sasak Lombok Tengah. Keberadaan tradisi ngorek ini tentu bukanlah hal yang kebetulan “sunnatullah” terjadi begitu saja secara alami. Penulis menekankan keberadaan suatu tradisi di dalam masyarakat manapun pasti ada penyebabnya—terlebih lagi fenomena ngorek di Lombok, maka dari itu akan menjadi tugas kita untuk meneliti secara mendalam dan menganalisisnya secara lebih jauh guna mendapatkan pemahaman dibalik “sunnatullah”. Penulis sendiri sangat menghindari corak pemikiran “sunnatullah” karena cenderung akan terjebak dalam pemikiran apologetis—maka alangkah baiknya dibalik fenomena sunnatullah ini kita cari jawabannya agar muncul nalar ilmiah yang lebih  kritis dan sistematis.

Dalam tulisan yang singkat ini penulis ucapkan banyak terimaksih, kami tunggu comment, kritikan, sanggahan serta masukan saudara-saudara. Matur tampiasih..!!!




[1]Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurusan Filsafat Islam (Prodi Agama dan Filsafat).
[2]Ngorek ini adalah istilah dalam bahasa sasak yang  memilki makna membacok diri dengan benda-benda tajam  sebagai bentuk perlawanan kaumlaki-laki atas dominasi politik, ekonomi dan sosial. Ngorek ini juga bertujuan menunjukkan eksistensi kaum laki-laki bahwa diri mereka perkasa, akan tetapi ngorek ini akan menuai kontroversi bahkan dapat mengakibatkan permusuhan diantara masyarakat, karena ngorek ini tidak lain hanya bertujuan untuk menunjukkan sikap superioritas serta keberanian kaum laki-laki bahwa diri mereka kebal atas benda-benda tajam.
[3]Konsep Nyongkolan ini dilakukan dengan iring-iringan menuju rumah orang tua pengantin perempuan ini para masyarakat disana semua berdandan, berhias dan juga menggunakan pakaian adat sasak untuk ikut mengiringi pengantin menuju kerumah orang tua pengantin perempuan sambil diiringi musik ciloka’ dan gamelan. Sedangkan dipihak keluarga perempuan juga akan  menyiapkan musik dan segala hal untuk menyambut datangnya pasangan pengantin untuk proses sorong serah (serah terima) pengantin yang sayah dimata sosial masyarakat dan juga hukum Islam.
[4]Gamelan dan gendang belek adalah musik tradisional suku sasak. Gendang belek ini tidak jauh berbeda dengan gamelan yang ada di budaya Bali, alat musik yang digunakan hampir semuanya sama akan tetapi yang  membedakan hanya dari segi pakaian yang digunakan oleh pemain musik.
[5]Kata sasak merujuk pada suku yang ada di pulau Lombok, sasak ini adalah nama suku asli penduduk pulau Lombok yang sering disebut dengan masyarakat suku sasak.
[6] Mistik (mysticism) adalah keyakinan dalam penyatuan dengan hakikat ilahi lewat cara-cara kontemplasi ekstatik, dan keyakinan dalam kekuatan akses spiritual menujurealitas ultimate atau wilayah pengetahuan yang terbuka bagi pemikiran sehari-hari. Lihat Simon Blackburn dalam The Oxford Dictionari of Philosophy, terj. Yudi Santoso, cet ke-I 2013, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 581.
                [7]Richard King, Agama, Orientalisme, dan Poskolonialisme, terj. Agung Prihantoro, (Yogyakarta: Penerbit Kalam, 2001), hlm. 16.
                [8]Kata animisme berasal dari bahasa latin, anima yang berarti roh, yaitu kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan punya kekuatan yang ada dibalik sesuatu. Animisme adalah bentuk pemikiran paling tua yang dapat ditemukan dalam setiap sejarah umat manusia. Lihat Daniel l. Pals, Seven Theories of Religion, terj. Inyiak Ridwan Muzir, cet ke-II (Yogyakarta, IRCiSoD, 2012). 41.
                [9]Dinamisme dan di inggriskan menjadi dynamis yang dalam bahasa indonesia berarti kekuatan, kekuasaan atau khasiat. Selanjutnya kata tersebut menurut Honig dalam Ahmad Abd Syakur dinamisme diartikan dengan jenis paham dan perasaan keagamaan yang terdapat di berbagai bagian dunia, pada berjenis-jenis bangsa dan menunjukkan banyak persamaan. Baca Ahmad Abd Syakur dalam E.B. Tylor. Islam dan kebudayaan Akulturasi Nilai-Nilai Islam Dalam Budaya Sasak. (Yogyakarta, Fak Adab Press UIN Sunan Kalijaga, 2006), hlm. 19.
[10]Akibat mengkonsumsi rokok, daun sirih, atau dalam bahasa sasak pamaQ yang sudah diberikan mantera-mantera oleh sesepuh maka sang-pengorek merasakan hal yang berbeda dalam tubuh mereka, tubuh sang pengorek mulai merasakan gatal-gatal serta mereka menjadi percaya diri karena diakibatkan oleh mantera-mantera tadi. Dan untuk menghilangkan rasa gatal dalam tubuh mereka, maka sang pengorek harus membacokkan diri mereka dengan benda-benda tajam sebagai obatnya.
[11]Memaling dalam bahasa Indonesia adalah mencuri, akan tetapi memaling ini memiliki makna yang lebih sfesifik  yakni sebuah  perkawinan, pernikahan atau konsep dalam masyarakat suku sasak ketika menjalankan tradisi perkawinan, karena fenomena budaya kawin lari ini sangat menarik karena merujuk pada masyarakat yang menganut sistem perkawinan yang meyakini bahwa secara kebudayaan adalah sebuah cara yang paling disetujui karena ini termasuk dalam penjagaan  kearifan lokal (local wisdom) yang dimana kaum laki-laki dalam menunjukkan superioritas dan kejantanannya adalah sebagai respon dari dominasi politik dan ekonomi dari kekuatan-kekuatan internal dan eksternal.

Populer Post Berugaq Institute

SELAMAT DATANG DI BLOG BERUGAQ INSTITUTE "SELAMAT MENIKMATI DAN TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG" KARENA KUNJUNGAN ANDA SANGAT BERHARGA

Fanspage Berugaq Institute

Pengunjung BI Online


Get this