Jumat, 06 Februari 2015

What Is The Education For...?

Posted by Unknown On 22.35 | No comments

Dewi Satria Elmiana elmianadewi@gmail.com[1]



Bertumpu pada ontologi pendidikan yaitu “apa” yang seharusnya di ajarkan di sekolah dan Perguruan Tinggi?. Kurikulum pendidikan mesti dapat memberikan reformasi terhadap pendidikan Indonesia. Namun demikian, yang menjadi catatan saat ini tidak hanya “apa” yang harus di ajarkan di sekolah, namun bagaimana pendidikan dapat memicu terjadinya perubahan dalam masyarakat tertentu. Artinya, lembaga pendidikan bertanggung jawab atas terciptanya SDM yang baik untuk kemajuan Daerah. Pengukuran terhadap mutu pendidikan tidak dapat dilihat dari kuantitas belaka, tetapi prestasi kualitas harus menjadi tujuan utama. Orientasi pendidikan tidak hanya menghasilkan para pencari kerja atau pemburu CPNS, tapi pendidikan menciptakan komunitas kecil dalam masyarakat yang berfikir lebih strategis dan luas dalam perspektif untuk pembangunan dan perubahan yang lebih baik.

Lembaga pendidikan tidak harus menciptakan masyarakat baru dengan orientasi Seeking Job, tapi harus berorientasi pada manusia dengan tingkat kreatifitas ide-ide dan gagasan perubahan dalam masyarakat yang berorientasi pada Creating Job. Inilah terminologi pendidikan yang harus di implementasikan di daerah yang baru atau daerah otonomi baru.

Yang menarik dalam perhatian saya adalah, pertama, fenomena PNS yang dijadikan sebuah tolak ukur dari kebanyakan masyarakat Indonesia untuk mencapai sebuah pengakuan diri akan sebuah kesuksesan karir. Lulus CPNS sama dengan harga diri dan derajat meninggi, sehingga muncullah para sarjana muda yang terkesan “dipaksakan” lulus dengan title yang dipaksakan pula. Seperti contoh sederhana yang sering muncul yaitu ketika tenaga yang dibutuhkan seperti guru, tenaga medis, tenaga professional, dan lain-lain. Akibatnya orang beramai-ramai bahkan berebutan untuk memperebutkan posisitersebut.

Hal ini dapat dibuktikan dari orientasi pendidikan dalam minat jurusan yang diambil mahasiswa pada Perguruan Tinggi. Dalam dunia kerja, hal ini wajar saja terjadi. Orang akan memilih suatu pilihan jursan sesuai dengan kesempatan dunia kerja dan profesi. Namun dalam upaya menciptkan pendidikan sebagai kunci perubahan, orientasi pendidikan yang “sempit” itu harus menjadi perhatian penting.

Kedua, yang menarik dari persoalan diatas adalah munculnya disorientasi pendidikan dalam masyarakat. Pendidikan sebagai olah hati, olah rasa, dan olah raga bagi setiap lapisan masyarakat berubah menjadi semacam ruang sempit yang berisi manusia-manusia tanpa kreatifitas dan ide-ide perubahan yang lebih inklusif. Cara berfikir ini melahirkan perspektif yang sempit dalam masyarakt terhadap dunia penididikan. Pendidikan dianggap hanya sebagai upaya untuk mendapat kan kerja. Orang tua akan berupaya semaksimal mungkin untuk pendidikan anaknya asal dapt kerja,  sayangnya sang anak, pun tidak mengerti tentang tanggung jawab pendidikan dalam masyarakat. Pendidikan hanya diliht dari perspektif kerja.

Persoalan ini tidak saja menimbulkan disorientasi pendidikan dalam masyarakat. Melainkan, berbahaya bagigenerasi masa depan. Harusnya, ditanamkan dalam generasi untuk melakukan ide-ide perubahan dan pengembangan ilmu pengtahuan sehingga menjadi manusia terdidik dengan orientasi Creating Job.

Cara berfikir masyarakat yang demikian tidak hanya terjadi di daerah pingggiran. Dalam masyarakat perkotaan pun hal ini sudah biasa terjadi. Pendidikan sebagai kunci perubahan harus dapat melahirkan manusia dengan tingkat ide, gagasan, dan kreatifitas sebagai modal pembangunan daerah. Semoga kita dapat merealisasikannya. Amiiin.



[1] Materi diskusi rutin Berugaq Institute 4 februari 2015, penulis adalah Dewi Satria Elmiana, alumni Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta dan sekarang sedang ‘nyambi sebagai’ dosen POLITEKNIK PPKP Yogyakarta.

Senin, 26 Januari 2015

Galeri Berugaq Institute 2014

Posted by Unknown On 21.16 | No comments



Pemberian Penghargaan "Berugaq Award edisi-I" kepada Agus Dedi Putrawan






Diskusi Berugaq Institute di UGM dengan tema "Etika Kultural Masyarakat Sasak"




Makan Bersama Sahabat-sahabat Berugaq Institute dengan Semeton Imsak Jakarta (Solihin)


Etika Kultural Masyarakat Sasak

Posted by Unknown On 20.47 | 1 comment

Oleh. Ishak Hariyanto


Begitu kompleksnya kultural masyarakat sangat, namun karena adanya kompleksitivitas ini maka kita memiliki ruang gerak untuk melihat sasak dari berbagai macam ragam serta sudut pandang pengetahuan. Dalam hal ini penulis ingin melihat sasak dalam sudut pandang “filsafat etika”. Etika kultural masyarakat sasak sebenarnya telah lama mengendap dalam tubuh masyarakat sasak yang kadang tidak kita sadari, diantara etika kultural masyarakat sasak tersebut adalah—konsep kebersamaan, kebahasaan, keramah tamahan, membantu satu sama lain, kekeluargaan, kepedulian. Semua konsep etika ini sangat kuat dalam tradisi masyarakat pada tahun (80-2000). Nuansa kultural masyarakat sasak seperti ini bagi penulis masih sangat alami dan memiliki nuansa yang penuh dengan ketenangan. Tulisan yang singkat ini tentunya tidak bisa mengcover secara keseluruhan etika kultural masyarakat sasak, akan tetapi paling tidak ada beberapa yang cukup representatif yang dianggap penting untuk diklarifikasi.

Etika kultural masyarakat sasak yang dimaksud disini adalah aturan-aturan, awik-awik desa, local wisdom yang terdapat dalam masyarakat sasak. Konsep etika yang terdapat dalam masyarakat sasak ini sebenarnya adalah suatu hal yang menarik untuk kita gali secara secara mendalam karena memilki makna secara filosofis. Dan tentunya etika yang terdapat dalam tubuh masyarakat sasak ini sebenarnya sebagai dari identitas, kekuatan positif serta jati diri masyarakat sasak ketika bersinggungan dan bahkan bertemu dengan entitas kultural masyarakat lain di luar sasak. Konsep-konsep etika kultural dalam masyarakat sasak yang mampu penulis angkat dalam hal ini adalah—etika kebersamaan, kebahasaan, keramah tamahan, membantu satu sama lain, dan etika kepedulian. Semua konsep ini ketika melebur dan bertemu dengan entitas lain di luar sasak;  menjadi sesuatu yang tidak berharga lagi dan bahkan redup dimakan oleh zaman dan kita tidak mampu menyadarinya bahwa konsep-konsep tersebut telah hilang. Etika kultural masyarakat sasak tersebut jangan dimaknai secara normatif, akan tetapi harus dimaknai dengan konteks hidup kita di era millenium ketiga ini—dan terlebih lagi, kita tarik dalam sebuah kajian yang membutuhkan pemaknaan kembali dengan konteks kekinian kita sebagai identitas  sasak.

Identitas sasak ini yang menurut penulis tidak lagi muncul dalam kultural masyarakat sasak, nuansa etik yang dulu kental sebagai identitas sasak, maka pada saat ini redup dimakan oleh zaman. Keberadaan nuansa etika ini bagi penulis hanya terdapat di desa-desa atau di perkampungan, akan tetapi kalau dalam konteks perkotaan konsep etika kultural ini sudah  lama redup dan menghilang. Memang globalisasi berpengaruh besar terhadap (world view) masyarakat sasak, sehingga berdampak pada robohnya sendi-sendi kultural yang dari “etika positif menuju etika keredupan”. Meskipun arus global telah merubah ragam kehidupan masyarakat sasak akan tetapi paling tidak kita pernah merasakan atmosper etika kultural yang masih alami seperti ini.

Tujuan dari tulisan yang singkat ini sebenarnya untuk mendeskripsikan etika yang terdapat dalam kultural masyarakat sasak yang telah lama redup, dan bahkan hampir menghilang. Etika kultural tersebut adalah kebersamaan, kebahasaan, keramah tamahan, membantu satu sama lain dan kepedulian. Konsep etika tersebut yang penulis namakan etika kultural masyarakat sasak yang alami dan telah meredup. Memang sejauh analisis penulis akibat meredupnya etika kultural masyarakat tersebut adalah akibat dari pengaruh zaman yang berbeda, materialisme dan individualisme. Akan tetapi pengaruh-pengaruh ini jangan dimaknai sebagai suatu akibat yang negatif semata, akan tetapi malah berakibat yang positif yakni pada tataran kedewasaan dalam menjalani kehidupan, persaingan membangun kekayaan, pendidikan dan aspek-aspek sosial lainnya.

Sejauh analisis penulis 5-10 Tahun kedepan masyarakat sasak tidak lagi memilki konsep etika sebagai identitas masyarakat sasak. Semakin suatu desa berbenturan dengan peradaban modern dan berubah menjadi perkotaan maka akan  mengakibatkan menghilangnya konsep etika masyarakat yang penulis sebutkan di atas, dan bahkan akan semakin menggrogoti nilai-nilai etik masyarakat sasak. Oleh karena itu kita harus jeli dalam melihat suatu perubahan, dan menganalisisnya, kita tidak bisa hanya sebatas beranggapan, bahwa perubahan itu suatu yang “sunnatullah”, anggapan yang “sunnatullah” ini-lah yang akan membuat nalar analisis kita sebagai seorang akademisi meredup, sehingga rasionalitas kita menjadi terkungkung dalam konsep sunnatullah semata.


Perubahan yang terjadi dalam pola pikir masyarakat sasak tentu saja akibat perubahan zaman, materialisme, individualisme.  Untuk mengembalikan etika kultural masyarakat sasak tersebut memang agak sulit, karena struktur masyarakat serta etika kehidupan masyarakat telah berbeda. Meskipun sulit bukan berarti tidak mungkin—karena  untuk mengembalikan nuansa etika kultural tersebut dibutuhkan kesadaran dalam diri kita serta diluar kita sebagai bagian dari struktur masyarakat sasak. Andaikan dalam tulisan ini dituntut untuk mencari problem solving—tentu saja dibutuhkan kajian yang lebih serius dan mendalam untuk mencari jawabannya dan bahkan perlu untuk didiskusikan dalam forum-forum keilmuan guna membangun etika kultural masyarkat sasak yang lebih dinamis dengan konteks zaman.

Jumat, 19 Desember 2014

Malam Sembilan "Berugaq Awards"

Posted by Unknown On 05.54 | No comments



Sembilan kali sudah pertemuan dan diskusi yang telah dilaksanakan oleh Berugaq Institute, banyak cerita dan moment penting yang memberi arti dan penegasan komitmen. Cerita demi cerita, moment demi moment telah terangkum dalam bumbu yang diracik oleh para pengurus Berugaq Institute, dengan harapan “ini bukanlah sebuah permainan kosong, melainkan kita sedang bermain intelektual untuk mewujudkan setiap dengungan cita-cita mulia dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang banyak”. Sesuai dengan ikrar tiga pondasi dasar Berugaq Institute.

Perjalan kesembilan ini, tentu saja tidak hanya bumbu manis yang telah tercicipi, namun pahit pedas, asam dan yang lainnya pun telah menjadi sejarah yang tak dapat tergambarkan dalam bentuk kebahagian semu, melainkan akan menjadi rasa (kebahagiaan) sepanjang zaman bagi para pengurus Berugaq Institute. Perjalanan ini pun bertepatan dengan angka lahirnya Berugaq Institute (tanggal 09-10-2014) dan founding father yang terdiri dari sembilan orang. Maka Berugaq Institute bersyukur akan segala komitmen yang masih terlihat dari semua pengurus Berugaq Institute. Dengan ini, maka perlu adanya sebuah penghargaan yang pantas dan patut untuk pengurus Berugaq Institute, tanpa adanya sebuah eleminisi. Tetapi ini adalah semata-mata untuk memberikan sebuah spirit dan rangsangan (stimulus) agar para pengurus lebih mengerti dan terus berjuang.

Dengan demikian, Berugaq Institute mengucapkan selamat atas sahabat Agus Dedi Putrawan sebagai penerima penghargaan “penulis aktif (edisi I) Berugaq Institute, 2014”. Dengan harapan, semoga pemberian penghargaan ini tidak menjadi salah satu alasan untuk menjadi pemenang karena kemenagan melahirkan kesombongan, melainkan sebuah tantangan besar untuk meniti karir yang lebih baik dan sukses. Oleh karena itu, semoga apa yang Berugaq Institute berikan dapat dihargai dengan komitmen yang lebih tinggi dan menjadi spirit serta vitamin yang akan selalu menjaga eksistensi. Sekali lagi kami ucapkan dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pengurus berugaq institute dan khususnya kepada saudara Agus Dedi Putrawan.
Tertanda
Direktur BI                                                           Sekretaris Direktur BI


M. Salimudin, S.Thi                                             Syukur, S.Sos.I
Nip: BI.09102014.9.01                                         Nip: BI.09102014.9.02


Ucapan Sambutan


Bismillah...... 
Salam sejahtera bagi kita semua....

Pertama-tama izinkan saya bersyukur kepada Allah Swt.  Tuhan semesta alam, karena sampai dengan detik ini kita masih dipelihara dan masih dibimbing baik akal, maupun pikiran, baik perkataan maupun tindakan. Sholawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan alam, orang terpilih, imam manusia, Muhammad saw. Berkat beliau kita dapat berkenalan dengan Islam, menuntun kepada kebenaran.

Kemudian izinkan saya berterimakasih kepada kita semua, yang telah memegang komitmen, menghidupkan lembaga ini (Berugaq Institute) meski dalam himpitan kesibukan, bergelut dalam tugas yang tak kunjung usai, teman-teman sempatkan hadir dalam setiap diskusi Berugaq Institute. Berangkat dari sana kami pun faham andaikata satu atau dua orang yang hadir sedang yang lain berhalangan, namun diskusi akan tetap berjalan karena di sana lah saya temukan hakikat ilmu itu.

Tak lupa juga apesiasi saya kepada direktur dan sekretaris Berugaq Institute yang tak bosan-bosannya menagih tulisan kami  yang sebenarnya masih dalam tahap belajar.

Penghargaan yang saya dapatkan ini, hakikatnya bukan sebuah prestasi yang luar biasa atau capaian dalam sebuah kompetisi yang berdarah-darah, namun ini adalah bentuk apresiasi simbolik dari sidang pembaca untuk seluruh pengurus Berugaq Instutute, penghargaan sekaligus harapan agar tulisan-tulisan yang  kita suguhkan tidak putus dalam sebuah rangkaian kata demi kata.  Penghargaan ini utamanya adalah stimulasi untuk seluruh pengurus Berugaq Instutute yang dalam kesehariannya sibuk dengan aktivitas-aktivitas akademika kampus yang memusingkan.

Bagi saya berugaq institute adalah keluarga yang terbentuk dari komponen-komponen yang bersatu, berintegrasi dan berinterkoneksi, mencoba menyodorkan masalah dan dengan cara mengepung kita menawarkan solusi untuk masalah-masalah kekinian, terlebih menyangkut perubahan sosial masyarakat lokal yang tak mungkin lagi kita lakkan bersama. Berugaq institute hadir bukan sebagai solusi, namun mererupakan mitra kerja masyarakat, pemerintah, budayawan, tokoh agama, tokoh pemuda dan segala lapisan masyarakat yang konsen terhadap perubahan dalam payung globalisasi.

Terakhir, saya haturkan terimakasih kepada sidang pembaca yang budiman, yang telah membuktikan keeksistensiannya sebagai pemerhati, pengawal, penyaring setiap perubahan di akar rumput. Saran dan kritik membangun kami nanti sebagai bahan evaluasi kedepan, karena kami sadar betul bahwa kami tak kan pernah sempurna tanpa bimbingan dan arahan sidang pembaca.
Sekian...
Wassalam....      


Kamis, 27 November 2014

Burhanudin

Posted by Unknown On 00.09 | No comments


Nama                                    : Burhanudin
Tempat & Tanggal Lahir         : Bongak, 22-04-1994
Alamat                                   : Bongak Desa Tempak Kecamatan Pujut Lombok Tengah NTB
Jenis Kelamin                         : Laki-Laki
Alamat Email/phone                : bajangburhan74@yahoo.com/081803767795
Hobby                                    :  Membaca, jalan-jalan


RIWAYAT PENDIDKAN

SDN Jelateng, MTSN Model Praya, MAN 1 Praya.
Universitas Negeri Yogyakarta  (Pendidikan Bahasa Perancis)


ORGANISASI

SAFEL UNY (Students Activity Forum Of Foreign Lenguages)

KEGIATAN YANG PERNAH DI IKUTI
Pidato Bahasa Perancis Tingkat Nasional 2014
Konfernsi Kurikulum Pendidikan Bahasa Perancis Indonesia 2014


Populer Post Berugaq Institute

SELAMAT DATANG DI BLOG BERUGAQ INSTITUTE "SELAMAT MENIKMATI DAN TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG" KARENA KUNJUNGAN ANDA SANGAT BERHARGA

Fanspage Berugaq Institute

Pengunjung BI Online


Get this