Jumat, 06 Februari 2015

FM LOBAR dalam Arus Perubahan Sosial

Posted by Unknown On 23.32 | No comments


“Telaah Globalisasi versus Karakter Mahasiswa Sasak Lombok Barat”
Oleh: Agus Dedi Putrawan[1]
agusdediputrawan@gmail.com




Dalamdiskusi kali ini, saya ingin mengajak para pembaca untuk mengurai dua kata kunci yang nantinya akan kita bedah bersama-sama sesuai dengan bidang studi masing-masing. Namun terlebih dahulu ada baiknya pembahasan ini saya mulai dari perspektif keilmuan penulis yakni apa yang orang katakan ilmu “curiga” atau sosiologi politik. Dua kata kunci yang penulis ajukan adalah “globalisasi” dan “mahasiswa Sasak” Lombok Barat. Baik, mari kita urai kata kunci pertama dengan seksama!.

Globalisasi dalam masyarakat dikenal dengan sebutan global atau mendunia, globalisasi diartikan di sini adalah proses, upaya dan usaha di mana satu idiologi yang berasal dari Eropa dan Amerika menjadi idiologi tunggal yang mempengaruhi dunia yang biasa disebut “modern” atau “modernisasi”. Contohnya; kemajuan teknologi, mobilisasi, transportasi dan telekomunikasi di Eropa dan Amerika masuk kepelosok-pelosok desa.  Orang bangga ketika sudah disebut modern dan cenderung malu jika disebut ketinggalan zaman “gawah”. Listrik, Televisi, koran, radio, handphone internet, sudah masuk keperkampungan. Orang sudah dengan gampang mendapat berita tentang sesuatu yang jauh melalui media masa. Orang sudah bias bertegur sapa meskipun jaraknya bermil-mil dengan handphone, Facebook, email, twitter, skype, dan lain sebagainya. Namun tahukah anda globalisasi atau modernisasi adalah bentuk dari benturan antarperadaban “Clash of Civilization” (Samuel Hutington), antara agama, budaya (timur) dan teknologi (science) daribarat. Tampaknya teknologi memenangkan dirinya dalam perebutan hati manusia kontemporer saat ini. Agama, dan budaya masih atau harus berfikir keras untuk mulai mendialogkan hal tersebut.

Sebenarnya jika kita telisik lebih jauh, kemajuan Eropa dan Amerika tidak lepas dari pola-pola perkembangan manusia yang menurut Ernest Gellnerdalamteori Nation and Nationalism “Masyarakat eropa sebelum renaisans mengalami masa-masa sulit, kebodohan, perbudakan, monopoli raja dan Gereja membatasi ekspresi masyarakat social pada waktu itu, peralihan dari Hunter Gather Society ke Argo Literal Society membuka gerbang perubahan menuju Industrial Society, yang kemudian orang-orang sudah tidak terikat lagi kepada raja dan gereja, selanjutnya timbul istilah secular, capitalism, modernity, nationalism, socialism, akibat dari riak-riak perjuangan masyarakat eropa. Eropa sudah sukses dengan kemodernisasiannya, sekarang mari kita tengok dunia dalam skup yang lebih kecil yakni masyarakat sasak”. (Krismono)

Gaggap Gembita abad 21 ini sebenarnya Eropa dan Amerika sudah masuk ke dalam Neo-Modern,  namun siapa bilang kita sudah di tahap ini..? Eropa dan Amerika wajar, karena mereka On the Track dalam sejarah (lihat. Max Weber, etika protestan and spirit of capitalism), Indonesia bagaimana? Lombok?. Lombok Barat? Ternyata kita adalah Negara berkembang yang masuk dalam tipe Negara Ketiga (negara-negara terjajah). Edward Said dalam bukunya orientalism mengatakan, “Negara ketiga di abad 21 adalah neo orientalism atau neo colonialism”.

Kata kunci kedua adalah. “Mahasiswa Lobar” Minimal ada dua pendekatan tokoh apabila kita ingin melihat karakter dalam suatu masyarakat. Pertama, menurut Emile Durkheim”jika ingin melihat orang (Lombok Barat) lihatlah masyarakatnya, karena masyarakatlah yang membentuk individu Lobar tersebut”. Kedua, menurut Max Weber “jika ingin melihat Masyarakat (Lombok Barat) lihatlah individu-individu-nya, karena individu-individulah yang membentuk masyarakat Lombok Barat ”. Saya akan memakai pendekatan Emile Durkheim untuk melihat karakter mahasiswa Lombok Barat, karena pendekatan Durkheim lebih mudahdi fahami dalam diskusi ini.

Durkheim menekankan bahwa tugas intelektual yang concern terhadap masyarakat adalah mempelajari apa yang disebut fakta-fakta sosial. Fakta social mencakup representasi mental yang dimiliki bersama oleh individu-individu dan hubungan actual dalam pemersatuan individu-individu. Ia membayangkan fakta social sebagai kekuatan (force) dan struktur yang bersifat eksternal dan memaksa. (awik-awik desa, aturan adat, agama, hukum, dll). Contoh; individu dilahirkan dalam masyarakat tertentu dan dibatasi untuk bertindak menurut representasi kolektif (keluarga, masyarakat) yang berlaku dan di dalam hubungan sosial yang mapan.

Menurutnya semua tindakan individu “dibatasi” oleh factor sosial di luar dirinya. Istilah paling umum untuk “batas” ini adalah solidaritas sosial. Ada dua bentuk solidaritas. Pertama, solidaritas mekanik. Kedua, Solidaritas organik. Karakter mahasiswa lobar masuk ke mekanik atau organik di bawah akan di bedah dengan seksama.

Solidaritas mekanik dicirikan, masyarakat kesukuan “elementer”, yang diorganisasikan di seputar kesamaan, primitive dan homogenitas, sedangkan solidaritas organic dicirikan, masyarakat dengan pembagian kerja yang luas dan yang memiliki pola saling ketergantungan.

Penjelasan.
Pertumbuhan populasi di masyarakat (Lombok Barat) primitive meningkatkan perbedaan sosial, mengurangi kemungkinan solidaritas mekanis dengan melemahnya adat istiadat dan budaya tradisional yang telah menyatukan mereka. Perluasan pembagian kerja cenderung disertai oleh peningkatan egoism dan anomi, meski Dukheim melihat ini adalah sebuah fenomena tradisional.

Perbedaan sosial di seputar fungsi khusus menghasilkan saling ketergantungan yang terus meningkat dari individu dan ini menjadi dasar dari sebuah bentuk solidaritas social yang baru (solidaritas organik). Solidaritas organik ini dapat dicapai ketika sebuah pembagian kerja yang kompleks dan tingkat individualism yang tinggi digabung dengan sebuah aturan moral mengenai hubungan kontraktual.

Kesimpulan
Hal yang ditakutkan dari globalisasi adalah tergerusnya agama dan budaya lokal, lalu bagaimana komentar anda tentang Lombok Barat?

Rupanya Mahasiswa Lombok Barat sudah masuk ketahap solidaritas organik dengan pembagian jurusan dengan profesionalitas masing-masing. Namun masih sebatas fisik, dalam alam pikiran dan tindakan mereka masih bersemayam agama dan budaya Sasak dengan solidaritas mekanik-nya.[2]


[1]Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan  Studi Politik dan Pemerintahan dalam Islam. dan saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang "Pengembangan dan Research" Berugaq Institute Lombok.
[2] Semogabermanfaat, SekiandanTerimakasih

What Is The Education For...?

Posted by Unknown On 22.35 | No comments

Dewi Satria Elmiana elmianadewi@gmail.com[1]



Bertumpu pada ontologi pendidikan yaitu “apa” yang seharusnya di ajarkan di sekolah dan Perguruan Tinggi?. Kurikulum pendidikan mesti dapat memberikan reformasi terhadap pendidikan Indonesia. Namun demikian, yang menjadi catatan saat ini tidak hanya “apa” yang harus di ajarkan di sekolah, namun bagaimana pendidikan dapat memicu terjadinya perubahan dalam masyarakat tertentu. Artinya, lembaga pendidikan bertanggung jawab atas terciptanya SDM yang baik untuk kemajuan Daerah. Pengukuran terhadap mutu pendidikan tidak dapat dilihat dari kuantitas belaka, tetapi prestasi kualitas harus menjadi tujuan utama. Orientasi pendidikan tidak hanya menghasilkan para pencari kerja atau pemburu CPNS, tapi pendidikan menciptakan komunitas kecil dalam masyarakat yang berfikir lebih strategis dan luas dalam perspektif untuk pembangunan dan perubahan yang lebih baik.

Lembaga pendidikan tidak harus menciptakan masyarakat baru dengan orientasi Seeking Job, tapi harus berorientasi pada manusia dengan tingkat kreatifitas ide-ide dan gagasan perubahan dalam masyarakat yang berorientasi pada Creating Job. Inilah terminologi pendidikan yang harus di implementasikan di daerah yang baru atau daerah otonomi baru.

Yang menarik dalam perhatian saya adalah, pertama, fenomena PNS yang dijadikan sebuah tolak ukur dari kebanyakan masyarakat Indonesia untuk mencapai sebuah pengakuan diri akan sebuah kesuksesan karir. Lulus CPNS sama dengan harga diri dan derajat meninggi, sehingga muncullah para sarjana muda yang terkesan “dipaksakan” lulus dengan title yang dipaksakan pula. Seperti contoh sederhana yang sering muncul yaitu ketika tenaga yang dibutuhkan seperti guru, tenaga medis, tenaga professional, dan lain-lain. Akibatnya orang beramai-ramai bahkan berebutan untuk memperebutkan posisitersebut.

Hal ini dapat dibuktikan dari orientasi pendidikan dalam minat jurusan yang diambil mahasiswa pada Perguruan Tinggi. Dalam dunia kerja, hal ini wajar saja terjadi. Orang akan memilih suatu pilihan jursan sesuai dengan kesempatan dunia kerja dan profesi. Namun dalam upaya menciptkan pendidikan sebagai kunci perubahan, orientasi pendidikan yang “sempit” itu harus menjadi perhatian penting.

Kedua, yang menarik dari persoalan diatas adalah munculnya disorientasi pendidikan dalam masyarakat. Pendidikan sebagai olah hati, olah rasa, dan olah raga bagi setiap lapisan masyarakat berubah menjadi semacam ruang sempit yang berisi manusia-manusia tanpa kreatifitas dan ide-ide perubahan yang lebih inklusif. Cara berfikir ini melahirkan perspektif yang sempit dalam masyarakt terhadap dunia penididikan. Pendidikan dianggap hanya sebagai upaya untuk mendapat kan kerja. Orang tua akan berupaya semaksimal mungkin untuk pendidikan anaknya asal dapt kerja,  sayangnya sang anak, pun tidak mengerti tentang tanggung jawab pendidikan dalam masyarakat. Pendidikan hanya diliht dari perspektif kerja.

Persoalan ini tidak saja menimbulkan disorientasi pendidikan dalam masyarakat. Melainkan, berbahaya bagigenerasi masa depan. Harusnya, ditanamkan dalam generasi untuk melakukan ide-ide perubahan dan pengembangan ilmu pengtahuan sehingga menjadi manusia terdidik dengan orientasi Creating Job.

Cara berfikir masyarakat yang demikian tidak hanya terjadi di daerah pingggiran. Dalam masyarakat perkotaan pun hal ini sudah biasa terjadi. Pendidikan sebagai kunci perubahan harus dapat melahirkan manusia dengan tingkat ide, gagasan, dan kreatifitas sebagai modal pembangunan daerah. Semoga kita dapat merealisasikannya. Amiiin.



[1] Materi diskusi rutin Berugaq Institute 4 februari 2015, penulis adalah Dewi Satria Elmiana, alumni Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta dan sekarang sedang ‘nyambi sebagai’ dosen POLITEKNIK PPKP Yogyakarta.

Senin, 26 Januari 2015

Galeri Berugaq Institute 2014

Posted by Unknown On 21.16 | No comments



Pemberian Penghargaan "Berugaq Award edisi-I" kepada Agus Dedi Putrawan






Diskusi Berugaq Institute di UGM dengan tema "Etika Kultural Masyarakat Sasak"




Makan Bersama Sahabat-sahabat Berugaq Institute dengan Semeton Imsak Jakarta (Solihin)


Etika Kultural Masyarakat Sasak

Posted by Unknown On 20.47 | 1 comment

Oleh. Ishak Hariyanto


Begitu kompleksnya kultural masyarakat sangat, namun karena adanya kompleksitivitas ini maka kita memiliki ruang gerak untuk melihat sasak dari berbagai macam ragam serta sudut pandang pengetahuan. Dalam hal ini penulis ingin melihat sasak dalam sudut pandang “filsafat etika”. Etika kultural masyarakat sasak sebenarnya telah lama mengendap dalam tubuh masyarakat sasak yang kadang tidak kita sadari, diantara etika kultural masyarakat sasak tersebut adalah—konsep kebersamaan, kebahasaan, keramah tamahan, membantu satu sama lain, kekeluargaan, kepedulian. Semua konsep etika ini sangat kuat dalam tradisi masyarakat pada tahun (80-2000). Nuansa kultural masyarakat sasak seperti ini bagi penulis masih sangat alami dan memiliki nuansa yang penuh dengan ketenangan. Tulisan yang singkat ini tentunya tidak bisa mengcover secara keseluruhan etika kultural masyarakat sasak, akan tetapi paling tidak ada beberapa yang cukup representatif yang dianggap penting untuk diklarifikasi.

Etika kultural masyarakat sasak yang dimaksud disini adalah aturan-aturan, awik-awik desa, local wisdom yang terdapat dalam masyarakat sasak. Konsep etika yang terdapat dalam masyarakat sasak ini sebenarnya adalah suatu hal yang menarik untuk kita gali secara secara mendalam karena memilki makna secara filosofis. Dan tentunya etika yang terdapat dalam tubuh masyarakat sasak ini sebenarnya sebagai dari identitas, kekuatan positif serta jati diri masyarakat sasak ketika bersinggungan dan bahkan bertemu dengan entitas kultural masyarakat lain di luar sasak. Konsep-konsep etika kultural dalam masyarakat sasak yang mampu penulis angkat dalam hal ini adalah—etika kebersamaan, kebahasaan, keramah tamahan, membantu satu sama lain, dan etika kepedulian. Semua konsep ini ketika melebur dan bertemu dengan entitas lain di luar sasak;  menjadi sesuatu yang tidak berharga lagi dan bahkan redup dimakan oleh zaman dan kita tidak mampu menyadarinya bahwa konsep-konsep tersebut telah hilang. Etika kultural masyarakat sasak tersebut jangan dimaknai secara normatif, akan tetapi harus dimaknai dengan konteks hidup kita di era millenium ketiga ini—dan terlebih lagi, kita tarik dalam sebuah kajian yang membutuhkan pemaknaan kembali dengan konteks kekinian kita sebagai identitas  sasak.

Identitas sasak ini yang menurut penulis tidak lagi muncul dalam kultural masyarakat sasak, nuansa etik yang dulu kental sebagai identitas sasak, maka pada saat ini redup dimakan oleh zaman. Keberadaan nuansa etika ini bagi penulis hanya terdapat di desa-desa atau di perkampungan, akan tetapi kalau dalam konteks perkotaan konsep etika kultural ini sudah  lama redup dan menghilang. Memang globalisasi berpengaruh besar terhadap (world view) masyarakat sasak, sehingga berdampak pada robohnya sendi-sendi kultural yang dari “etika positif menuju etika keredupan”. Meskipun arus global telah merubah ragam kehidupan masyarakat sasak akan tetapi paling tidak kita pernah merasakan atmosper etika kultural yang masih alami seperti ini.

Tujuan dari tulisan yang singkat ini sebenarnya untuk mendeskripsikan etika yang terdapat dalam kultural masyarakat sasak yang telah lama redup, dan bahkan hampir menghilang. Etika kultural tersebut adalah kebersamaan, kebahasaan, keramah tamahan, membantu satu sama lain dan kepedulian. Konsep etika tersebut yang penulis namakan etika kultural masyarakat sasak yang alami dan telah meredup. Memang sejauh analisis penulis akibat meredupnya etika kultural masyarakat tersebut adalah akibat dari pengaruh zaman yang berbeda, materialisme dan individualisme. Akan tetapi pengaruh-pengaruh ini jangan dimaknai sebagai suatu akibat yang negatif semata, akan tetapi malah berakibat yang positif yakni pada tataran kedewasaan dalam menjalani kehidupan, persaingan membangun kekayaan, pendidikan dan aspek-aspek sosial lainnya.

Sejauh analisis penulis 5-10 Tahun kedepan masyarakat sasak tidak lagi memilki konsep etika sebagai identitas masyarakat sasak. Semakin suatu desa berbenturan dengan peradaban modern dan berubah menjadi perkotaan maka akan  mengakibatkan menghilangnya konsep etika masyarakat yang penulis sebutkan di atas, dan bahkan akan semakin menggrogoti nilai-nilai etik masyarakat sasak. Oleh karena itu kita harus jeli dalam melihat suatu perubahan, dan menganalisisnya, kita tidak bisa hanya sebatas beranggapan, bahwa perubahan itu suatu yang “sunnatullah”, anggapan yang “sunnatullah” ini-lah yang akan membuat nalar analisis kita sebagai seorang akademisi meredup, sehingga rasionalitas kita menjadi terkungkung dalam konsep sunnatullah semata.


Perubahan yang terjadi dalam pola pikir masyarakat sasak tentu saja akibat perubahan zaman, materialisme, individualisme.  Untuk mengembalikan etika kultural masyarakat sasak tersebut memang agak sulit, karena struktur masyarakat serta etika kehidupan masyarakat telah berbeda. Meskipun sulit bukan berarti tidak mungkin—karena  untuk mengembalikan nuansa etika kultural tersebut dibutuhkan kesadaran dalam diri kita serta diluar kita sebagai bagian dari struktur masyarakat sasak. Andaikan dalam tulisan ini dituntut untuk mencari problem solving—tentu saja dibutuhkan kajian yang lebih serius dan mendalam untuk mencari jawabannya dan bahkan perlu untuk didiskusikan dalam forum-forum keilmuan guna membangun etika kultural masyarkat sasak yang lebih dinamis dengan konteks zaman.

Populer Post Berugaq Institute

SELAMAT DATANG DI BLOG BERUGAQ INSTITUTE "SELAMAT MENIKMATI DAN TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG" KARENA KUNJUNGAN ANDA SANGAT BERHARGA

Fanspage Berugaq Institute

Pengunjung BI Online


Get this